I have always wanted to learn to play piano, all my life. But money has always been the biggest problem. I won’t tell how hard life it was for me (and my family) when I was little. But having a piano sure was the furthest dream to come true. And for so long I never thought of having one.
Dari dulu aku pengin bisa main piano, seumur hidupku. Tapi uang selalu jadi masalah besar. Aku nggak akan cerita bagaimana susahnya hidupku (dan keluargaku) ketika aku masih kecil. Tapi untuk punya piano adalah impian yang kayaknya jauuuuuuuuuuuh banger. Untuk waktu yang lama, sama sekali nggak kepikir untuk punya piano.
About 2 years ago, my sister gave me a keyboard. She bought it for I don’t know what. But it stood left at a corner of her house, no one touched it. Well my brother in law has tried to play it, but it seemed didn’t work. Until one day I went there to their house and ‘touched’ it. I’ve learned how to play guitar and I knew a little about chords. So my sister decided to save the keyboard, by giving it to me.
Sekitar dua tahun yang lalu, mbakku ngasih keyboard. Dia beli nggak tau untuk apa. Pokoknya akhirnya tu keyboard dibiarkan sendirian di salah satu pojok di rumahnya. Kakak iparku sudah mencoba belajar main, tapi kayaknya nggak berhasil. Sampai suatu hari aku aen ke rumahnya dan ‘menyentuh’nya. Aku sudah belajar main gitar, dan tahu sedikit-sedikit tentang chord. Akhirnya mbakku memutuskan untuk menyelamatkan keyboardnya, dengan memberikannya padaku.
Keyboard, is of course not a piano. But it’s okay. I learn how to play it from a book my sister gave me along with the keyboard. I still want to play piano. But I felt too old to take a lesson. So I went to a music school to know if Ibit could take one. There’s a problem. I have to accompany her to go there, coz it was quite far from home. But I work, and some time get home late, means Ibit had to take the night class. And I cannot ride motorbike or car, coz I don’t have the license (and a bad car driver). Taking Ibit with bus would be so inconvenient.
Keyboard, tentu saja bukan piano. But it’s okay. Aku belajar memainkannya dengan buku yang dibawain bersama si keyboard. AKu masih pengin belajar piano, tapi rasanya udah terlalu tua kalau mau les. Jadi aku dateng ke sekolah musik dan cari tau siapa tau Ibit bisa les. Masalahnya, aku harus nganter dia kalau les. Padahal aku kerja, dan kadang pulang telat, yang berarti Ibit harus ambil kelas malam. Dan aku nggak bisa pergi-pergi naik motor atau mobil, soalnya aku nggak punya SIM (dan aku supir yang payah!). Kalau harus naik bis repot, tambah ngojek, malem-malem…
I held on with the keyboard.
Jadi aku bertahan dengan keyboardnya.
Until one day in Ibit’s school. Ibit’s friend played a piano and made me like, aaaaaaaaaa, so amazed. I asked his father where he learned it. Bla bla.bla…. He had a private teacher.
Sampai suatu hari disekolah Ibit, seorang temennya main piano dan membuat ku, aaaaaaaaaaaa….. terpesona. Aku tanya ayahnya di mana dia belajar piano. Bla.. bla.. bla. Dia punya guru privat.
“Can you give me his number? I want to asked if he still have time to teach Ibit”
Yes he has time for Ibit. He can come to our house so I don’t have to think about how to transport Ibit to take the piano lesson.
"Bisa minta nomor teleponnya? Saya ingin tahu apa masih punya waktu untuk mengajar Ibit".
Ya, dia punya waktu untuk Ibit. Dan bersedia datang ke rumah, jadi aku nggak pusing mikirin siapa yang mau nganter Ibit les.
Ibit started the lesson with the keyboard we already have. It’s enough for a beginning. But with a teacher to teach Ibit to play the piano the right way (I have taught her the wrong way…), my dream is getting closer.
Ibit memulai lesnya dengan keyboard yang kami punya. Lumayan buat permulaan. Tapi dengan guru yang nggenah (aku ngajarinnya nggak nggenah…), mimpiku kayanya sudah dekat untuk jadi kenyataan.
I’m not rich. And don’t have much money. But I finally bought it. Even Ibit’s teacher said, buying a piano is a scarification. It may be is. Even the piano doesn’t match our house, which is too small for the piano to be inside. But there are some things money can’t buy.
Aku bukan orang kaya. Dan nggak punya banyak uang, tapi aku nekat beli piano. Bahkan gurunya Ibit bilang, membeli piano adalah suatu pengorbanan. Mungkin. Benda itu juga sebenarnya nggak cocok dengan rumah kami yang terlalu kecil untuk diisi piano. Tapi ada hal yang tidak bisa diukur dengan uang.
I would say that Ibit has become a release of my deep kept dreams. Also how I make her join some singing contest. But thank God Ibit loves music as much as I do. So without knowing the story behind, she is happy with what she just got.
Bisa kubilang Ibit jadi pelampiasan mimpiku yang terpendam. Juga bagaimana aku mengikutkannya di beberapa lomba menyanyi. Tapi alhamdulillah Ibit sendiri punya kecintaan terhadap musik sebesar yang aku punya. Jadi tanpa tau cerita dibalik cerita, dia bahagia dengan yang ada.
Ibit learns every Wednesday afternoon. I try to go home early not to miss a thing (I peak her learning…) but still I some time miss it. It’s okay. I learn from Ibit right after her teacher goes home.
Ibit les piano setiap Rabu. Aku berusaha untuk pulang gasik supaya nggak ketinggalan ‘pelajaran’ (aku ngintip kalau Ibit lagi les…) tapi ya beberapa kali sempat telat juga. Nggak masalah, kalau gurunya pulang Ibit akan mengajariku ‘pelajaran hari ini’.
I’ll play the piano soon. Ready to take a listen?
Sebentar lagi aku akan main piano. Siap untuk mendengar?