out of reach

March 11th, 2008 by l-manohara

Berjalan di deretan sepatu

ada yang menarik

kutarik dan kulihat harganya

… out of reach

Berjalan di deretan baju

ada yang cantik

kutarik dan kulihat harganya

… out of reach

Berjalan di deretan tas

ada yang bagus

kutarik dan kulihat harganya

… out of reach

Without knowing before

I always interested in

out of reach things

ARTHUR

March 9th, 2008 by l-manohara

Kiss_2

akhirnya

setelah sekian lama

aku tidak menemuinya

bukan karena aku tidak mau

tapi aku tidak bisa, keadaanku

sungguh pun dia tahu

aku merasa dia tidak mengerti itu

akhirnya

setelah sekian lama

aku tidak menemuinya

hanya memandangnya sekali waktu

sungguh pun aku tak tahu

apa dia merasakan penderitaanku

seolah penderitaan hanya miliknya

dan kusentuh wajahnya

darahku menggelegak

luapan rindu yang tertahan

dan kukecup keningnya

air mataku berlinang

kian lama kian deras

seiring kukecup bibirnya

sejenak dipandanginya aku

seolah bertanya kenapa

dan dia tahu kenapa.

manohara

March 1st, 2008 by l-manohara

orang sering bertanya sebenarnya aku ini orang mana

katanya namaku bukan nama jawa

jawa banget lagi…

mudah-mudahan ini bisa cukup menjelaskan

how to live a life

February 29th, 2008 by l-manohara

tidak menuntut

sabar

mengendalikan diri

mengerti orang lain (bukan selalu minta dimengerti)

optimis

no rush

mengalir

hadapi (bukan melarikan diri)

pasti masih banyak lagi rumus untuk menjalani hidup. tapi ini adalah yang baru-baru ini aku pelajari….

HUJAN (I do like the rain)

February 25th, 2008 by l-manohara

ini jelas sama sekali bukan aku

tapi bayangkan kalau ada seseorang yang bisa begini….

(dan ini juga bukan ditulis olehku)

Aku tak pernah bisa membenci hujan
hujan sering menghambatku
memupus harapan dan jalinan janji-janji
menunggu lama karena hujan kacaukan jadwal
batal bertemu rekan akibat basah terguyur hujan
mengotori diriku karena lumpur yang dibuatnya
bahayakan diriku melayang di udara

Aku tetap masih menyukai hujan
memandang titik-titiknya menetes
di jendela kendaraan
di jendela rumah
lalu merembes di tanah lembut
atau genangi sesuatu

Hujan turun dari langit
titik-titik air menghujam ke bawah
basahi bumi dan isinya
berikan kehidupan bagi kekeringan
tumbuhkan segala manfaat bagi kita semua

Hujan tak pernah peduli
sebaik apa pun hasil
seburuk apa pun akibat
Hujan memberikan seluruhnya dengan rela

Aku selalu merasa ingin seperti hujan
tugasnya purna saat memberi
tulus ketika lakukan
bahagia datang pada saat tuntas

Aku selalu kagum pada hujan
berbagi meski berarti korbankan diri
tak pernah hujan berharap hasil
tak pula bersyarat

Aku bersyukur dengan sedikit kelebihan yang kumiliki
Aku bahagia saat mampu membagi dan memberi itu
Bertahun aku melatih diriku
   berbagi tanpa syarat
   memberi tanpa meminta

Mungkin akulah hujan
Mungkin pula hanya obsesi terlampau tinggi

Jelas bagi diriku,
tak mungkin memaksaku menuntut apa pun
dari apa yang akan dan ingin kubagi
dari apa yang akan dan ingin kuberi

Bahagiaku saat memberi
Gembiraku saat berbagi
Sudah tak kubutuhkan lagi sukacita lain
Tak kumiliki keinginan lain

Cinta? Sayang?
Entahlah apa yang orang katakan tentang itu
bagiku tuntas semuanya ketika mencintai
bagiku purna segalanya ketika menyayangi

Bisa jadi benar akulah hujan…
tak pernah bisa
tak pernah ingin
meminta dan berharap
dari rasa cinta yang telah kuberikan
cintaku tak pernah bersyarat

Aku sungguh-sungguh menyukai hujan.

22.2.2008
RII

I love my piano

February 24th, 2008 by l-manohara

Dsc01816 I have always wanted to learn to play piano, all my life. But money has always been the biggest problem. I won’t tell how hard life it was for me (and my family) when I was little. But having a piano sure was the furthest dream to come true. And for so long I never thought of having one.

Dari dulu aku pengin bisa main piano, seumur hidupku. Tapi uang selalu jadi masalah besar. Aku nggak akan cerita bagaimana susahnya hidupku (dan keluargaku) ketika aku masih kecil. Tapi untuk punya piano adalah impian yang kayaknya jauuuuuuuuuuuh banger. Untuk waktu yang lama, sama sekali nggak kepikir untuk punya piano.

About 2 years ago, my sister gave me a keyboard. She bought it for I don’t know what. But it stood left at a corner of her house, no one touched it. Well my brother in law has tried to play it, but it seemed didn’t work. Until one day I went there to their house and ‘touched’ it. I’ve learned how to play guitar and I knew a little about chords. So my sister decided to save the keyboard, by giving it to me.

Sekitar dua tahun yang lalu, mbakku ngasih keyboard. Dia beli  nggak tau untuk apa. Pokoknya akhirnya tu keyboard dibiarkan sendirian di salah satu pojok di rumahnya. Kakak iparku sudah mencoba belajar main, tapi kayaknya nggak berhasil. Sampai suatu hari aku aen ke rumahnya dan ‘menyentuh’nya. Aku sudah belajar main gitar, dan tahu sedikit-sedikit tentang chord. Akhirnya mbakku memutuskan untuk menyelamatkan keyboardnya, dengan memberikannya padaku.

Keyboard, is of course not a piano. But it’s okay. I learn how to play it from a book my sister gave me along with the keyboard. I still want to play piano. But I felt too old to take a lesson. So I went to a music school to know if Ibit could take one. There’s a problem. I have to accompany her to go there, coz it was quite far from home. But I work, and some time get home late, means Ibit had to take the night class. And I cannot ride motorbike or car, coz I don’t have the license (and a bad car driver). Taking Ibit with bus would be so inconvenient.

Keyboard, tentu saja bukan piano. But it’s okay. Aku belajar memainkannya dengan buku yang dibawain bersama si keyboard. AKu masih pengin belajar piano, tapi rasanya udah terlalu tua kalau mau les. Jadi aku dateng ke sekolah musik dan cari tau siapa tau Ibit bisa les. Masalahnya, aku harus nganter dia kalau les. Padahal aku kerja, dan kadang pulang telat, yang berarti Ibit harus ambil kelas malam. Dan aku nggak bisa pergi-pergi naik motor atau mobil, soalnya aku nggak punya SIM (dan aku supir yang payah!). Kalau harus naik bis repot, tambah ngojek, malem-malem…

I held on with the keyboard.

Jadi aku bertahan dengan keyboardnya.

Until one day in Ibit’s school. Ibit’s friend played a piano and made me like, aaaaaaaaaa, so amazed. I asked his father where he learned it. Bla bla.bla…. He had a private teacher.

Sampai suatu hari disekolah Ibit, seorang temennya main piano dan membuat ku, aaaaaaaaaaaa….. terpesona. Aku tanya ayahnya di mana dia belajar piano. Bla.. bla.. bla. Dia punya guru privat.

“Can you give me his number? I want to asked if he still have time to teach Ibit”

Yes he has time for Ibit. He can come to our house so I don’t have to think about how to transport Ibit to take the piano lesson.

"Bisa minta nomor teleponnya? Saya ingin tahu apa masih punya waktu untuk mengajar Ibit".

Ya, dia punya waktu untuk Ibit. Dan bersedia datang ke rumah, jadi aku nggak pusing mikirin siapa yang mau nganter Ibit les.

Ibit started the lesson with the keyboard we already have. It’s enough for a beginning. But with a teacher to teach Ibit to play the piano the right way (I have taught her the wrong way…), my dream is getting closer.

Ibit memulai lesnya dengan keyboard yang kami punya. Lumayan buat permulaan. Tapi dengan guru yang nggenah (aku ngajarinnya nggak nggenah…), mimpiku kayanya sudah dekat untuk jadi kenyataan.

I’m not rich. And don’t have much money. But I finally bought it. Even Ibit’s teacher said, buying a piano is a scarification. It may be is. Even the piano doesn’t match our house, which is too small for the piano to be inside. But there are some things money can’t buy.

Aku bukan orang kaya. Dan nggak punya banyak uang, tapi aku nekat beli piano. Bahkan gurunya Ibit bilang, membeli piano adalah suatu pengorbanan. Mungkin. Benda itu juga sebenarnya nggak cocok dengan rumah kami yang terlalu kecil untuk diisi piano. Tapi ada hal yang tidak bisa diukur dengan uang.

I would say that Ibit has become a release of my deep kept dreams. Also how I make her join some singing contest. But thank God Ibit loves music as much as I do. So without knowing the story behind, she is happy with what she just got.

Bisa kubilang Ibit jadi pelampiasan mimpiku yang terpendam. Juga bagaimana aku mengikutkannya di beberapa lomba menyanyi. Tapi alhamdulillah Ibit sendiri punya kecintaan terhadap musik sebesar yang aku punya. Jadi tanpa tau cerita dibalik cerita, dia bahagia dengan yang ada.

Ibit learns every Wednesday afternoon. I try to go home early not to miss a thing (I peak her learning…) but still I some time miss it. It’s okay. I learn from Ibit right after her teacher goes home.

Ibit les piano setiap Rabu. Aku berusaha untuk pulang gasik supaya nggak ketinggalan ‘pelajaran’ (aku ngintip kalau Ibit lagi les…) tapi ya beberapa kali sempat telat juga. Nggak masalah, kalau gurunya pulang Ibit akan mengajariku ‘pelajaran hari ini’.

I’ll play the piano soon. Ready to take a listen?

Sebentar lagi aku akan main piano. Siap untuk mendengar?

awake

February 22nd, 2008 by l-manohara

03.50

Couldn’t sleep all night

At nine my eyes closed for a while before it opened, and refuse to close again

So I worked on my iPod I’ve left I guess almost a year

It was dusty in the bottom of my wired stuffs box, under some chargers, earphones, a roll of mixer wire, old card readers and others

The songs were out of date

My CPU’s just been re-installed for viruses attacked

I had to re-install my iTunes, I found the installer disc

But as I finished and plugged in my iPod, it said: your iPod requires iTunes-7 or later

Oh, great

I looked for it in a mess bunch of discs, thank god I found iTunes 7 installer — just as dusty as my iPod was

Done

I wanted to update the songs, but don’t know how

I’ve done it before but I completely forgot and couldn’t figure it out

So I just managed the files

Titles, artist, albums, genres…

Deleted some songs I don’t think I would listen

Deleted some songs sung by unoriginal artist

Don’t know how they could get in there

Can’t believe I’ve spent almost 4 hours doing it

Was feeling hungry

Wanted to eat something

I had a bar of Snicker that would fill my stomach in two – three bites

And some bread in the refrigerator

But my mouth was too sticky to open

So I grabbed a box of 200ml Ultramilk, it helped

04 20

Adzan

I guess I have to rest my self for a while

I feel so lazy to go to office

But a lot of work is waiting to be done today

Uma will be mad if I don’t show up

(this was written on 18 January 2008 at time mentioned)

ORANG-ORANG DI BAWAH JEMBATAN

February 22nd, 2008 by l-manohara

PEOPLE UNDER THE BRIDGE

Ada

dua orang laki-laki muda, sedang rebahan di tikar.

Ada

seorang laki-laki setengah baya. Sepertinya mantan preman, tubuhnya penuh tato.

Ada

dua perempuan setengah baya. Yang satu sedang ngobrol dengan si ‘mantan preman’. Yang satu lagi sedang memberi makan anjing. Anjingnya ada empat. Yang satu di rantai, yang tiga berkeliaran gitu aja. Tapi tetep aja harus ditenangkan yang punya agar mau berhenti menggonggongi kami.

Ada

seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.

There were two young men, lying down on the mattress. An old man, a road gang guy I guess, tattoos all over his body. And there were two old ladies. One was talking to the ‘road gang guy, the other was feeding dogs. There were four dogs. One was chained; the others were hanging around the people. Still those people need to calm them down to make them stop bark on us. And there was a young lady carrying a baby.

Dinding rumahnya hanya satu sisi: abutment jembatan. Di kanan kirinya semak, dan di depannya air sungai. Tapi ada bagian-bagian seperti sebuah rumah. Tikar tempat dua orang yang rebahan itu, mepet dengan abutment, bisa dibilang kamar. Bangku panjang tempat si ‘mantan preman’ ngobrol, bisa dibilang ruang tamu. Bangku panjang yang agak di tengah tempat si ibu muda bercanda dengan bayinya, bisa dibilang ruang keluarga. Perempuan yang satu lagi, memberi makan anjingnya di ‘dapur’, yang letaknya paling dekat dengan air. Dan agak sedikit keluar dari sisi bawah jembatan, ada ‘washtafel’: dua bak kecil yang sepertinya bekas dipakai mencuci piring. Aku bisa membayangkan di mana ‘kamar mandi’ mereka.

The only wall of ‘the house’ was the bridge’s abutment. Bushes on the left and right sides, and the river flows right in front. But you can see parts of a house. The mattress those young men lied on, next to the abutment, you can call it the bed room. The chair where the gang guy sat on, you can call it guest room. The other chair, where the young lady played with her baby, you can call it living room. The old woman fed the dogs in the ‘kitchen’, the closest part to the river. A little to the outside under the bridge, there was a ‘washbasin’: a little pail where they seemed just washed their dishes in. I could imagine where the bathroom was.

Hidup di bawah jembatan….

Iiving under the bridge…

Mengapa mereka bisa berada di sana?

How could they be there?

Bagaimana kalau malam waktu mereka tidur? Nyamuk… Dingin…. Ular… atau kalajengking yang keluar dari semak-semak?

How do they sleep at night? Insects… cold… snakes… or scorpion that might crawl to them?

Dan bayi itu. Tidur bersama mereka juga. Beralas tikar aja….

And the baby. Sleeps with them. On that mattress…

Bagaimana kalau hujan, dan permukaan air naik? Ke mana mereka berlindung? Dan si bayi, bagaimana?

What if it rains, and the water level rise up? Where do they take cover? And what about the baby?

Dan kalau mereka mau minum, air dari mana?

And what do they drink?

Dan untuk makan mereka sehari-hari, dari mana? Memulung? Jadi kuli? Mengemis? Jadi tukang parkir? Jadi preman? Mencuri?

And what they do to get food? Pick up junk? Be a beggar? Parking man? Thieves?

Aku tidak berani bertanya.

I couldn’t ask.

Aku tidak berani berlama-lama di

sana

.

I couldn’t stand there too long.

Aku pulang dengan penuh ketidakmengertian.

I went home with questions inside my head.

Mungkin orang-orang itu menikmati menjalani hidup seperti itu. Kebebasan. Tanpa aturan dan kekangan. Mungkin mereka bisa mengabaikan kesehatan, kebersihan, pendidikan, sopan santun, keindahan… Tapi perut mereka tidak akan bisa di abaikan.

Maybe those people enjoy a life like that. Freedom, without rules. Maybe they can ignore health, hygiene, education, good behavior, beauty…. But they can not ignore their stomach’s demand.

Apa yang akan mereka lakukan dengan tuntutan perut mereka?

What do they do about that?

            

            Alhamdulillah, atas apa yang kumiliki, yang sesungguhnya semuanya bukanlah milikku. Atas segala yang kunikmati, yang semua hanyalah kemurahanNYA.

             Alhamdulillah, for all that I’ve got, which all are not mine. For all I’ve enjoyed, which all are GOD’s.

Alhamdulillah.

Alhamdulillah.

Aku tidak punya kata-kata lain.

            I’ve got no other words.

Some one to believe in.

February 22nd, 2008 by l-manohara

Dulu, ada orang yang sama sekali tidak ingin aku dengarkan. Apapun katanya, aku tidak ingin dengar. Aku tidak percaya padanya. Menurutku dia aneh, jalan pikirannya, kebiasaannya. Kami benar-benar tidak punya kesamaan ide. Kami datang dari komunitas yang berbeda, dengan jalan pikiran yang berbeda.

Once, there was some one that I didn’t want to hear. No matter what she said. I just didn’t want to. Because I didn’t believe in her. I thought she was weird, her thoughts and habits. We really didn’t have any same idea. W e came from different communities, different ways of think, we were just so different at all. Masalahnya, dia selalu memaksa aku mengikuti jalan pikirannya, di semua hal. Dia bilang aku harus begini, atau jangan begitu. Dia menyuruhku melakukan ini, atau jangan melakukan itu. Dia marah kalau aku tidak mau, dan aku muak. The problem was she always determined to make me think the way she did. In any ways. She told me to be like this, or not to be like that. Asked me to do this, or don’t do that. She got angry if I didn’t agree, and I got sick of it.

Perlahan kami bisa saling mengerti. Aku mencoba untuk percaya, dan dia mengurangi dominasinya atas aku. Aku dengarkan apa yang bisa aku terima, dan kuabaikan yang tidak. Dan dia bisa menerimanya. Sekarang semua baik-baik saja. Tapi butuh waktu lama untuk itu, sangat lama. Kalau saja kami tidak punya cukup kesabaran, kami tidak akan bisa seperti sekarang, jadi teman.

Slowly we understood one another. I tried to believe her, and she reduced her dominance on me. And so, I started to listen to her. I took what I could accept, and I would just ignore what I couldn’t. And she’s ok with that. Things are going well now. But it took time. Long time. If only both of us didn’t have enough patience, we wouldn’t be just like the way we are now. Be friends.

Aku sendiri memahami, sulit untuk mendengarkan seseorang, kalau dari awal sudah tidak mempercayainya. Memang selalu sulit buatku untuk percaya pada seseorang, dan lebih sulit lagi untuk membuat orang percaya padaku. Dan itu menyakitkan. Sebagian dari kita menilai seseorang hanya dari kesan pertama. Dan biasanya aku tidak bisa memberi yang terbaik.

I can understand how hard it is to listen to someone, when you don’t have faith in from the beginning. It’s always so hard for me to believe in somebody, and even harder to make someone to believe in me. And it hurts. Some of us judge people by the first impressions. And I usually never give the best one.

Dalam suatu kumpulan, ketika aku butuh mereka untuk percaya padaku, kadang aku justru memberi kesan pertama yang buruk. Kalau sudah begitu, perlu waktu untuk memperbaiki, Untung kalau bisa. Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau mereka tidak peduli, dan begitu saja menyimpulkan aku bukan yang mereka butuhkan? Bagaimana kalau mereka menginginkan aku pergi saat itu juga?

In a group of people, just when I need them to believe in me, I sometimes give a bad first impression. In that case, it always need time to fix it up. I would be lucky if I got some. But what if I didn’t? What if they just don’t’ care, and think I’m not the one they need? What if they just swipe me at the time?

GOOD BYE PAK MISBAR

May 3rd, 2007 by l-manohara

Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun…

Setelah berbulan-bulan bertanya-tanya, akhirnya terjawab sudah dengan keterangan dari penjaga pom bensin di Sukun. Ternyata Pak Misbar sudah meninggal setelah sempat sakit beberapa waktu.

After few months wondering, finally, I finally got an info from the man at the gas station. Pak Misbar passed away after sick for a while.

Sebenernya aku juga nggak tahu siapa nama sebenarnya. Kusebut Pak Misbar karena itu yang tertulis di tenda tempat dia jualan mi dan nasi goreng. Mungkin karena pada saat awal jualan gak pake tenda, jadi misbar, kalau gerimis bubar…

I don’t know exactly what,s his name. I called him so, because that’s the writing on his tend where he sell fried rice and noodle. May be coz at the beginning, he didn’t use tend. So when rain falls, spread out…

Pak Misbar itu penjual nasi goreng terenak di Semarang (versi aku). Aromanya khas…. Dan harganya sangat terjangkau. Yang unik lagi, dia baru buka jam 9 malam, bisa sampai jam 4 pagi. Dulu mangkalnya di Pom Bensin Sukun. Tapi disuruh pindah dengan alasan apinya berbahaya di areal pom. Sebenernya masuk akal, tapi jadi gak masuk akal karena setelah Pak Misbar pindah ke seberang jalan gantian seorang pedagang mie ayam mangkal di situ…

Pak Misbar sells the most delicious fried rice and noodle in Semarang (my version). It has special smell and taste.And the price is so reachable.The unique thing is, he start cooking at 21.00, and he may stay till 04.00. He used to stay at the corner of the gas station. But the owner told him to move coz he thought the fire was dangerous to be around the gas station. Makes sense, but no longer does when soon after Pak misbar move, another noodle seller stand there….

Pak Misbar adalah tumpuan dan harapan kalau aku lagi nggak nafsu makan, atau kalau lagi lapar malam-malam. Makanya waktu pindah ke sebarang jalan dari pom, aku sempet bingung nyariin. Lega banget waktu tahu tampat mangkal barunya. Sebuah rumah kosong, yang atas ijin pemiliknya boleh dipake jualan di halamannya, Menurutku lebih manusiawi daripada di pojok pom bensin yang kadang bercampur bau bensin dan yang lainnya.. (gak usah kusebutin).

Pak Misbar is a place I ran to whenever I had no appetite in food, or when I felt hungry in the middle of the night. Thats why, I was dying looking for him when he moved acroos the gas station. So glad to find him at an epty house that was allowed by the owner for him to stand there. Its better than gas station corner that sometimes smell strange….

Gak lama, tendanya ilang lagi. Tapi kali ini gak butuh waktu lama untuk ketemu lagi. Ternyata nyebrang lagi, cuma agak geser beberapa meter dari pom bensin. Rupanya rumah kosong tersebut dijual, dan pemilik barunya gak mau ada pedagang di situ. Padahal gak ditempatin juga lho. Dan sebenarnya, kalau pak Misbar jualan di situ, halaman rumah itu jadi bersih. Kalau bener-bener dikosongin ya gitu deh…

Not so long, the tend dissappeared. But this time, I didn’t take too long ti find him across back, few meters from the gas station. The empty house was sold, and the new owner wasn’t as good as the old one. Actually, it was better if Pak Misbar stay there. The place became clean and well cared.

Untuk beberapa waktu aku tetep bisa makan malam-malam di samping gerobak Pak Misbar. Sampai suatu saat beliau menghilang lagi. Aku sudah muter-muter ke daerah sekitar yang mungkin jadi tempat mangkal, tapi gak berhasil. Sampai putus asa. Aku cari penjual lain, tapi gak ada yang sehebat Pak Misbar.

For months, I could enjoy the yummy tasty rice and noodle from Pak Misbar’s wok. Till one day he dissappeared again.I went round and round to find him, but didn’t work. I was so desperated. I tried to find other fried rice cookie, but noone compared to Pak Misbar.

Dan. Kemaren malam. Waktu isi bensin. Di Pom itu. Kabar itu. Bikin sesak.

And. Last night. When I filled the fuel. The News. Throat cutting.

Pak Misbar itu orang yang sederhana banget. Nrimo. Berkali-kali diusir dari tempat jualannya, gak pernah mengeluh, gak menyalahkan yang ngusir. Selalu optimis di mana aja dia jualan. Katanya, Allah sudah ngatur rejekinya, gak bakal kurang. Dan memang, penggemarnya pasti nyariin ke mana dia pindah — kaya aku. Gak pernah lihat dia sedih. Selalu tersenyum. Bicaranya selalu bernada rendah, enak didengar. Kalau kembaliannya kurang, dia pasti inget untuk menambahkannya sebagai deposit di pembelian berikutnya, hatta cuma 500 perak.

Pak Misbar is such a simple man. He never complained for being kiced from place to place. He didn’t blame any one. Always optimistic. He said, God gives him what he need, never lack of a thing. And so, his fan will seek wherever he stayed–like me. I never saw him sad, alwas smiled. His words was always good to listen to. He always remember if I still have some deposit on him, even 500 rupiahs.

Selamat jalan Pak Misbar. Semoga diterima di tempat terbaik di sisi Allah….

Good bye Pak Misbar. May Allah gives you the best place beside HIM.

Aku belum nemu penggantimu.

I still can not find the one to take your place.