parallel
Friday, March 14th, 2008Live in reality
stand your ground
take your destiny
realize where you belong
I can’t live a parallel life
coz it has a tunnel between
for me to pass through
from one to the other
and it connected both in anyway
Live in reality
stand your ground
take your destiny
realize where you belong
I can’t live a parallel life
coz it has a tunnel between
for me to pass through
from one to the other
and it connected both in anyway
hari ini sukses jadi operator LCD dadakan.
grogi.
aku mending di suruh nyanyi di panggung.
mana si pembicara bolak-balik bilang, ‘lanjut mas..’
gak kelihatan apa, aku pake kudung?
Rihanna….
Unfaithfull….
Mengalun…
Membangkitkan gairahku…
Tubuhku meregang…
Melentur…
Aku menunduk…
Menengadah…
Dan kita bergerak bersama
Ke kanan…
Ke kiri…
Bergeser…
Dari satu sisi ke sisi yang lain
Apakah ini hanya perasaanku?
Ruangan terasa menjadi hangat… panas…
Begitu pula tubuhku…
Dan jantungku berdetak semakin cepat
Dan kita bergerak semakin kuat
Berputar..
Ke depan…
Ke belakang…
Melompat..
Nafas pun memburu
Dan aku berteriak
Di tengah gairah yang semakin meninggi
Hingga akhirnya kita melambat lagi
Menelungkup di lantai
Mengulir tubuh
Wajahku terasa panas
Badanku berkeringat, namun segar
Rasanya nyaman sekali
Aerobic bener-bener menyenangkan!
tiba-tiba saja si ibu ini masuk ke ruanganku dan menggerutu (atau mengomel?) berkepanjangan di hadapan pakde, atasanku. dia marah-marah karena sebagai MC acara di lantai VI dia tidak dipegangi susunan acara dan daftar nama pembicara, sehingga menyebabkan kekacauan dan mempermalukan dirinya dan para pembicara.
wait a minute… setahuku acara hari ini bukan tanggung jawab departemen kami. ya… tapi emang koordinator seluruh rangkaian acara dalam 3 hari ini adalah departemen kami,sih. aku tidak mengira penanggung jawab hari ini segitu sembrono.
dia masih saja nyerocos, bahkan ketika pakde memanggilku, ‘dik, tolong bawain susunan acara dan daftar pembicara untuk lusa’.
kubawakan, dan kuletakkan di meja pakde. aku berusaha mendengarkan keluhan si ibu, dan mencerna apa yang dia harapkan.
‘dik La tolong siapkan yang dia butuhkan buat lusa’, kata pakde.
‘dengan ini?’, aku menunjuk kertas yang barusan kuletakkan, untuk memastikan bahwa yang kusiapkan memang harus berdasar daftar itu.
‘ini bukan susunan acara’, kata si ibu, juga menunjuk kertas itu.
‘jadi bagaimana? acara yang tadi bagaimana sih?’, tanyaku. maksudku, aku bisa berbuat berdasarkan jalannya acara hari ini, antisipasi supaya besok tidak terjadi kekacauan lagi.
’sudah tidak usah urusin yang tadi’, si ibu bicara tetap dengan nada tinggi, dan jarinya menunjuk-nunjuk padaku. ‘bla.. bla… bla…’
dengan nada sama tinggi (atau mungkin setengah nada lebih tinggi), aku pun berkata padanya, ’saya hanya ingin memastikan apa yang salah tadi, sehingga bisa saya siapkan apa yang diperlukan besok. dan saya akan siapkan saat ini juga!’
dia diam.
pakde diam.
kuambil daftar dari meja pakde, kubawa ke komp, dan mulai bekerja berdasarkan pemahaman atas pendengaran terhadap sebuah omelan panjang.
aku sedang diare, dehidrasi, dan sibuk. dan aku sama sekali sedang tidak bernafsu melayani intimidasi, bahkan dari seorang senior. aku mungkin sedang berlaku tidak sopan dan membuat si ibu sakit hati. well, kalau aku mau aku bisa juga merasa sakit hati pada telunjuknya yang menuding kepadaku…
aku tidak tahu, tidak melihat, tidak mendengar bagaimana dia meninggalkan ruangan. sampai kudengar pakde berdiri di belakangku dan berkata, ‘tolong buatkan untuk 3 acara lainnya sekalian ya’
‘yes, sir’
Berjalan di deretan sepatu
ada yang menarik
kutarik dan kulihat harganya
… out of reach
Berjalan di deretan baju
ada yang cantik
kutarik dan kulihat harganya
… out of reach
Berjalan di deretan tas
ada yang bagus
kutarik dan kulihat harganya
… out of reach
Without knowing before
I always interested in
out of reach things
akhirnya
setelah sekian lama
aku tidak menemuinya
bukan karena aku tidak mau
tapi aku tidak bisa, keadaanku
sungguh pun dia tahu
aku merasa dia tidak mengerti itu
…
akhirnya
setelah sekian lama
aku tidak menemuinya
hanya memandangnya sekali waktu
sungguh pun aku tak tahu
apa dia merasakan penderitaanku
seolah penderitaan hanya miliknya
…
dan kusentuh wajahnya
darahku menggelegak
luapan rindu yang tertahan
dan kukecup keningnya
air mataku berlinang
kian lama kian deras
seiring kukecup bibirnya
sejenak dipandanginya aku
seolah bertanya kenapa
…
dan dia tahu kenapa.