beyond seniority
tiba-tiba saja si ibu ini masuk ke ruanganku dan menggerutu (atau mengomel?) berkepanjangan di hadapan pakde, atasanku. dia marah-marah karena sebagai MC acara di lantai VI dia tidak dipegangi susunan acara dan daftar nama pembicara, sehingga menyebabkan kekacauan dan mempermalukan dirinya dan para pembicara.
wait a minute… setahuku acara hari ini bukan tanggung jawab departemen kami. ya… tapi emang koordinator seluruh rangkaian acara dalam 3 hari ini adalah departemen kami,sih. aku tidak mengira penanggung jawab hari ini segitu sembrono.
dia masih saja nyerocos, bahkan ketika pakde memanggilku, ‘dik, tolong bawain susunan acara dan daftar pembicara untuk lusa’.
kubawakan, dan kuletakkan di meja pakde. aku berusaha mendengarkan keluhan si ibu, dan mencerna apa yang dia harapkan.
‘dik La tolong siapkan yang dia butuhkan buat lusa’, kata pakde.
‘dengan ini?’, aku menunjuk kertas yang barusan kuletakkan, untuk memastikan bahwa yang kusiapkan memang harus berdasar daftar itu.
‘ini bukan susunan acara’, kata si ibu, juga menunjuk kertas itu.
‘jadi bagaimana? acara yang tadi bagaimana sih?’, tanyaku. maksudku, aku bisa berbuat berdasarkan jalannya acara hari ini, antisipasi supaya besok tidak terjadi kekacauan lagi.
’sudah tidak usah urusin yang tadi’, si ibu bicara tetap dengan nada tinggi, dan jarinya menunjuk-nunjuk padaku. ‘bla.. bla… bla…’
dengan nada sama tinggi (atau mungkin setengah nada lebih tinggi), aku pun berkata padanya, ’saya hanya ingin memastikan apa yang salah tadi, sehingga bisa saya siapkan apa yang diperlukan besok. dan saya akan siapkan saat ini juga!’
dia diam.
pakde diam.
kuambil daftar dari meja pakde, kubawa ke komp, dan mulai bekerja berdasarkan pemahaman atas pendengaran terhadap sebuah omelan panjang.
aku sedang diare, dehidrasi, dan sibuk. dan aku sama sekali sedang tidak bernafsu melayani intimidasi, bahkan dari seorang senior. aku mungkin sedang berlaku tidak sopan dan membuat si ibu sakit hati. well, kalau aku mau aku bisa juga merasa sakit hati pada telunjuknya yang menuding kepadaku…
aku tidak tahu, tidak melihat, tidak mendengar bagaimana dia meninggalkan ruangan. sampai kudengar pakde berdiri di belakangku dan berkata, ‘tolong buatkan untuk 3 acara lainnya sekalian ya’
‘yes, sir’