alas kethu (hutanku)
alas kethu adalah tempat main masa kecilku, childhood playground.
setengah mati memanjat tinggi untuk bisa makan buah ‘kecacil’ yang kecutnya bukan main… ngumpulin buah mahoni, yang masih utuh atau yang sudah pecah… melempar bijinya ke udara dan melihatnya turun perlahan seperti baling-baling… berbekal arit, memotong akar-akar yang bentuknya aneh dan unik untuk dibikin tongkat (ntah juga tongkat untuk apa…)… petak umpet di sela ilalang… atau tiduran di atas tumpukan guguran daun mahoni ketika musim kemarau…
aku inget pengalaman cabut gigiku yang pertama. aku di bawa ke rumah sakit oleh ibu. waktu namaku dipanggil oleh si suster, alih-alih aku segera masuk ruang periksa. aku berdiri, lalu lari. ibuku berteriak-teriak memanggilku, aku tidak peduli. aku begitu ketakutan dan terus berlari…. sampai ke alas kethu. aku di sana sampai … lupa. mungkin sampai sore, atau cuma sampai siang? yang jelas di sana aku merenung sendiri, kenapa harus lari sejauh itu (at least 2km!) karena takut dicabut gigi? daripada dicabut ibu pake benang?
lalu aku minta maaf ke ibu dan besoknya minta diantar ke rumah sakit lagi. aku lupa ibu marah atau tidak. kalau aku yang jadi ibu mungkin aku jengkel juga. tapi yang jelas ibu mau mengantarku. dan ternyata… dicabut giginya emang sakit. jaman dulu gak dikasih bius kaya jaman sekarang, dokternya main cabut aja. tapi mau bagaimana lagi?
dua hari yang lalu di sebuah forum aku mendengar berita, pemerintah kabupaten wonogiri sedang bekerja sama dengan pemerintah provinsi guang xi china, membahas rencana ‘menyulap’ alas kethu menjadi zona industri, yang akan memberikan lapangan pekerjaan bagi 15.000 tenaga kerja.
di atas segala alasan yang diungkapkan, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sebagainya dan sebagainya… aku tetep sedih. seingatku itu hutan lindung.
‘bukan’, kata bapak itu
‘iya’, kataku
‘bukan’
‘iya’
‘gampang, tinggal dibikin bukan’ jawabnya santai.
OH!
March 27th, 2008 at 3:20 am
Alas Kethu….. Our childhood playground…….Yang kuinget, suatu hari ibu pergi, dan Ibot gak mau makan. Kalau nanti ibu ngecek Ibot ternyata belum makan, pasti aku kena uhuk-uhuk….. Akhirnya, kuambil vespa mungil (yang hanya bisa ngebut di bawah 50 km/jam), kuajak Ibot ke playground di pinggiran alas Kethu, main ayunan… Akhirnya porsi makan siang habis juga…. Kamu ikut juga… Inget, Gak?
Berbekal arit atau pisau, aku kecil mencari bengkuang atau kentang liar, berburu ulat gendut di bawah pohon turi untuk dibakar dan nikmaaat….
Ih. Kok aku doyan, ya?
Atau ritual musim kupu-kupu. Di waktu2 tertentu aku kecil menikmati hujan kupu-kupu. Aku tinggal berdiri di jalan depan rumah, menunggu ribuan kupu-kupu terbang dari arah gunung Buthak ke alas Kethu. Tinggal berdiri saja, tak perlu mengejar, begitu banyak kupu-kupu berlarian…. (lari atau terbang ya)Herannya…… Selalu terjadi di jam yang sama, jam sepuluh pagi….. Kamu ingat?
Note: sekarang pinggiran alas Kethu udah berubah menjadi kebun jagun yang luaaaaas…..
Indahnya tinggal kenangan…
March 29th, 2008 at 5:50 pm
aku ingat… aku ingat…
pengin maem gendon lagi…
(Hueekk!!)
May 14th, 2008 at 10:28 am
sbenernya ak lg kesal dengan band pendatang baru The Changcuters. Pada lagu “racun dunia” ada lirik yang berbunyi, ” …wanita racun dunia,karena dia butakan semua… wanita racun dunia… apa daya itu adanya..”
lirik itu dipandang sangat merendahkn derajat kaum wanita..
emang kalian (personel changcuters) itu lahir dari apa? dari batu kaya sun go kong ya???? Tahukah kalian bhwa surga di telapak kaki ibu??? ibu kalian wanita bukan??
Mohon dari pihak yang berwenang terutama dari menteri perlindungan dan pemberdayaan wanita untuk menanggapi hal ini dengan serius… karena hal ini merupakan penghinaan bagi kaum wanita..