ORANG-ORANG DI BAWAH JEMBATAN
PEOPLE UNDER THE BRIDGE
Ada dua orang laki-laki muda, sedang rebahan di tikar.
Ada seorang laki-laki setengah baya. Sepertinya mantan preman, tubuhnya penuh tato.
Ada dua perempuan setengah baya. Yang satu sedang ngobrol dengan si ‘mantan preman’. Yang satu lagi sedang memberi makan anjing. Anjingnya ada empat. Yang satu di rantai, yang tiga berkeliaran gitu aja. Tapi tetep aja harus ditenangkan yang punya agar mau berhenti menggonggongi kami.
Ada seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
There were two young men, lying down on the mattress. An old man, a road gang guy I guess, tattoos all over his body. And there were two old ladies. One was talking to the ‘road gang guy, the other was feeding dogs. There were four dogs. One was chained; the others were hanging around the people. Still those people need to calm them down to make them stop bark on us. And there was a young lady carrying a baby.
Dinding rumahnya hanya satu sisi: abutment jembatan. Di kanan kirinya semak, dan di depannya air sungai. Tapi ada bagian-bagian seperti sebuah rumah. Tikar tempat dua orang yang rebahan itu, mepet dengan abutment, bisa dibilang kamar. Bangku panjang tempat si ‘mantan preman’ ngobrol, bisa dibilang ruang tamu. Bangku panjang yang agak di tengah tempat si ibu muda bercanda dengan bayinya, bisa dibilang ruang keluarga. Perempuan yang satu lagi, memberi makan anjingnya di ‘dapur’, yang letaknya paling dekat dengan air. Dan agak sedikit keluar dari sisi bawah jembatan, ada ‘washtafel’: dua bak kecil yang sepertinya bekas dipakai mencuci piring. Aku bisa membayangkan di mana ‘kamar mandi’ mereka.
The only wall of ‘the house’ was the bridge’s abutment. Bushes on the left and right sides, and the river flows right in front. But you can see parts of a house. The mattress those young men lied on, next to the abutment, you can call it the bed room. The chair where the gang guy sat on, you can call it guest room. The other chair, where the young lady played with her baby, you can call it living room. The old woman fed the dogs in the ‘kitchen’, the closest part to the river. A little to the outside under the bridge, there was a ‘washbasin’: a little pail where they seemed just washed their dishes in. I could imagine where the bathroom was.
Hidup di bawah jembatan….
Iiving under the bridge…
Mengapa mereka bisa berada di sana?
How could they be there?
Bagaimana kalau malam waktu mereka tidur? Nyamuk… Dingin…. Ular… atau kalajengking yang keluar dari semak-semak?
How do they sleep at night? Insects… cold… snakes… or scorpion that might crawl to them?
Dan bayi itu. Tidur bersama mereka juga. Beralas tikar aja….
And the baby. Sleeps with them. On that mattress…
Bagaimana kalau hujan, dan permukaan air naik? Ke mana mereka berlindung? Dan si bayi, bagaimana?
What if it rains, and the water level rise up? Where do they take cover? And what about the baby?
Dan kalau mereka mau minum, air dari mana?
And what do they drink?
Dan untuk makan mereka sehari-hari, dari mana? Memulung? Jadi kuli? Mengemis? Jadi tukang parkir? Jadi preman? Mencuri?
And what they do to get food? Pick up junk? Be a beggar? Parking man? Thieves?
Aku tidak berani bertanya.
I couldn’t ask.
Aku tidak berani berlama-lama di
sana .
I couldn’t stand there too long.
Aku pulang dengan penuh ketidakmengertian.
I went home with questions inside my head.
Mungkin orang-orang itu menikmati menjalani hidup seperti itu. Kebebasan. Tanpa aturan dan kekangan. Mungkin mereka bisa mengabaikan kesehatan, kebersihan, pendidikan, sopan santun, keindahan… Tapi perut mereka tidak akan bisa di abaikan.
Maybe those people enjoy a life like that. Freedom, without rules. Maybe they can ignore health, hygiene, education, good behavior, beauty…. But they can not ignore their stomach’s demand.
Apa yang akan mereka lakukan dengan tuntutan perut mereka?
What do they do about that?
Alhamdulillah, atas apa yang kumiliki, yang sesungguhnya semuanya bukanlah milikku. Atas segala yang kunikmati, yang semua hanyalah kemurahanNYA.
Alhamdulillah, for all that I’ve got, which all are not mine. For all I’ve enjoyed, which all are GOD’s.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Aku tidak punya kata-kata lain.
I’ve got no other words.